Perdagangan Karbon, Menjual Kelestarian Hutan

Oleh : MS Ka’ban

Pelbagai kengerian tentang masa depan umat manusia, terutama bencana yang diakibatkan kerusakan lingkungan semakin menyebar. Salah satu yang membuat gencar penghembuskan wacana tersebut tentu saja film-film produksi Hollywood, Amerika Serikat (AS). Melalui film-film fiksi ilmiah maupun dokumenternya.

Bagi saya, kengerian yang disebarkan secara menghibur tersebut merupakan sebuah bentuk pelajaran mengenai lingkungan yang mudah dicerna banyak orang. Bukan tanpa alasan, salah satu prediksi ilmiah memperkirakan bahwa di tahun 2100 akan terjadi peningkatan suhu global antara 1,0 hingga 4,5 derajat Celsius, gunungan es di kutub semakin mencair dan mengakibatkan tinggi muka air laut bertambah 60
sentimeter.
494ba1ed63489
Apa jadinya bila prediksi tersebut benar-benar terjadi? Kota-kota besar di dunia yang kebanyakan terletak di dataran rendah tentu saja tergenang air, sementara penduduknya tersiksa dengan panasnya suhu luar ruang. Risiko lainnya bagi Indonesia, kemungkinan hilangnya ribuan pulau saat permukaan laut meninggi.

Perubahan iklim secara global tentu saja akan mempengaruhi tanaman juga. Produktivitas dan perkembangan hama serta penyakit tanaman akan mempengarui ketersediaan air dan distribusi vektor penyakit manusia. Dalam jangka panjang ketahanan pangan dan air yang dibutuhkan makhluk hidup akan terganggu. Manusia kehilangan sumber kehidupannya.

Perubahan iklim dan peningkatan suhu secara global tersebut dikarenakan banyaknya pelepasan karbon ke udara. Karbon tersebut salah satunya berasal dari sisa pembakaran yang dihasilkan industri maupun rumah tangga. Karbon yang terdapat di udara akan menipiskan dan menggangu kemampuan atmosfir untuk
memantulkan sinar ultraviolet yang dipancarkan matahari. Hal ini biasa dikenal juga dengan efek gas rumah kaca.

Dalam sebuah lokakarya yang digelar Wetlands International, dipaparkan antara tahun 1850 hingga 1998 diperkirakan 270 gigaton (Gt) karbon telah dilepaskan ke atmosfer. Bagian terbesar disumbangkan aktivitas manusia seperti pembakaran bahan bakar fosil dan kegiatan industri, yaitu sebesar 67 persen.

Pembukaan lahan secara global dalam waktu 20 tahun terakhir telah mengakibatkan terlepasnya 1,65 Gt karbon per tahun. Lebih dari 80 persen berasal dari negara berkembang dan Indonesia sendiri menyumbangkan sembilan persen (0,155 Gt karbon) dengan kemampuan penyerapan 0,110 Gt karbon. Hutan memang memiliki fungsi sebagai penyerap (sink) dan penyimpan (reservoir) karbon, istilahnya carbon
sink.

Dunia pun tidak tinggal diam, hal itu harus diatasi dengan cara mengurangi emisi dari sumbernya dan juga meningkatkan kemampuan penyerapan. Dalam Konvensi Perubahan Iklim Dunia (The United Nations Framework Convention on Climate Change/UNFCCC) yang diperdengarkan pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Bumi 1992 di Rio de Janeiro, komitmen penurunan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) itu telah disepakati sekitar 150 negara, termasuk Indonesia.

Komitmen itu dimatangkan dalam Konferensi Negara Pihak (COP) III UNFCCC tahun 1997 yang melahirkan Protokol Kyoto. Negara-negara maju bersepakat menekan emisi mereka ke tingkat lima persen di bawah tingkat emisi 1990. Target itu dicapai dalam periode komitmen pertama, antara 2008-2012. Gas-gas penting yang disebutkan dalam Protokol Kyoto adalah karbondioksida (CO), metana (CH), nitrogen oksida (NO), hidrofluorokarbon (HFCs), perfluorokarbon (PFCs), dan sulfur hexafluorida (SF6).

Sejak saat itu pulalah, berkembang tren baru, perdagangan karbon (carbon trade). Perdagangan karbon merupakan istilah untuk aktivitas penyaluran dana dari negara-negara penghasil emisi karbon kepada negara-negara yang memiliki potensi sumberdaya alam untuk mampu menyerap emisi karbon secara alami. Konservasi dimotivasi dengan imbalan dana segar melalui skema pembangunan bersih (clean mechanism development/CDM).

Hal ini merupakan peluang yang sangat baik untuk memanfaatkan potensi alam. Tentunya dengan cara lain selain menebang pohon. Karena yang dihitung dalam perdagangan karbon adalah hutan yang ada dijaga kelestariannya dan penanaman pada kawasan bukan hutan. Serta melakukan perbaikan kawasan hutan yang rusak dengan cara reboisasi.

Indonesia dengan luas hutannya, berpotensi untuk memasuki era perdagangan karbon tersebut. Berdasarkan data ADB – GEF – UNDP menunjukkan Indonesia memiliki kapasitas reduksi karbon lebih dari 686 juta ton yang berasal dari pengelolaan hutan. Jika harga rata-rata per ton karbon sebesar US$ 5, maka Indonesia berpotensi menjual sertifikat surplus karbon senilai US$ 3,430 milyar atau sekitar Rp 34 triliun.

Perhitungan tersebut memang belum menyertakan karbon yang dilepaskan oleh Indonesia sendiri. Tetapi, semakin banyak hutan lindung, semakin banyak pohon yang ditanam di setiap lahan kosong, semakin luas lahan yang direhabilitasi dan direboisasi tentunya akan meningkatkan potensi penerimaan dana.

Hal ini menjadi insentif moral bagi semangat Departemen Kehutanan dalam melakukan konservasi sumber daya alam hutan dan rehabilitasi lahan. Seperti yang sudah dilakukan selama ini melalui berbagai gerakan dan kampanye. Di antaranya Gerakan Penananam Serentak Indonesia yang memiliki tema dan target tersendiri setiap tahunnya, serta Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GNRHL).

Bagi negara, mekanisme perdagangan karbon tentunya menguntungkan. Keberhasilan dalam upaya menjaga, meningkatkan, dan mengembalikan kelestarian hutan yang dalam operasionalnya menghabiskan biaya yang tidak sedikit ternyata malah menghasilkan keuntungan dalam bentuk finansial.

Tawaran Nyata Untuk Indonesia

Jika selama ini perdagagan karbon masih dianggap sebagai wacana, tawaran yang paling nyata untuk perdagangan karbon datang belum lama dari Australia. Medio November 2008, Carbon Strategic Global (CSG) Australia menawarkan pembelian oksigen yang dihasilkan hutan di Sumatera Barat.

Oksigen yang diusulkan itu diproduksi hutan lindung dalam wilayah 10 kabupaten dan satu kota di Sumatera Barat. Seluas 865.560 ha hutan lindung itu berada di Kabupaten Solok seluas 126.600 ha, di Solok Selatan 63.879 ha, Tanah Datar 31.120 ha, Pesisir Selatan 49.720 ha, Pasaman 232.660 ha, 50 Kota 151.713 ha dan Kabupaten Agam 34.460 ha. Lalu di Kabupaten Pasaman Barat 56.829 ha, Padang
Pariaman 19.894 ha, Sijunjung 85.835 ha dan hutan lindung di Kota Padang yang luasnya 12.850 ha.

CSG telah menawarkan kompensasi Rp 900 miliar per tahun untuk oksigen yang diproduksi hutan-hutan lindung di Sumatera Barat tersebut. Jika perdagangan itu terealisasi, maka dana kompensasi akan diterima juga oleh pemerintah daerah yang memiliki kawasan hutan lindung dan menghasilkan oksigen.

Dana yang cukup besar itu, selain menjadi pendapatan baru bagi daerah juga bisa dimanfaatkan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar hutan dan masyarakat adat pemilik ulayat hutan lindung. Sehingga upaya untuk menuju pemanfaatan hutan yang lestari untuk kemakmuran rakyat segera terwujud. Segala permasalahan seperti kasus pencurian kayu, pembakaran hutan, perambahan hutan dapat ditekan semaksimal mugkin, dampaknya tentu positif secara ekonomi dan sosial.

Penulis adalah Menteri Kehutanan ( detik.com kamis 01 -10-2009 )

Oktober 1, 2009 at 3:12 pm Tinggalkan komentar

Ulama

“ Wahai anakku, duduklah bersama para ulama dan mendekatlah kepada mereka dengan kedua lututmu, karena sesungguhnya Allah menghidupkan hati manusia dengan cahaya hikmah, sebagaimana Allah menghidupkan bumi yang gersang dengan hujan.” (Luqman Al-Hakim)

Menurut ahli pembelajaran, ilmu akan muncul tatkala terjadinya interaksi antar manusia. Dengan demikian, semakin banyak berinteraksi dengan orang-orang alim, semakin banyak ilmu yang meresap dalam diri kita, disadari atau tidak. Memang, kalau sudah biasa dilakukan, rasanya tidak ada terjadi peningkatan ilmu dalam diri kita. Tapi yakinlah, peningkatan (ilmu pengetahuan) itu ada, meski perlahan.
Masalah interaksi dengan para ulama juga mendapat perhatian serius dari Luqman al-Hakim. Makanya, hamba Allah yang namanya termaktub dalam Al-Qur’an itu selalu menasehati anaknya untuk sering-sering mendekati ulama. Duduk atau berkawan saja dengan mereka sama halnya dengan belajar, karena akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Apalagi kalau ikut belajar dengan sungguh-sungguh bersama mereka. Lazimnya, dengan berkawan dengan mereka, hati kita akan terdorong untuk belajar dan berperilaku seperti mereka. Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan Rasulullah SAW bahwa, kalau ingin tahu pengetahuan agama seseorang, maka lihatlah siapa kawannya.
Dikatakan juga, ibadahnya orang alim lebih tinggi nilainya daripada ibadahnya orang biasa. Hal ini sangat masuk akal, karena orang alim mengerti rukun-rukunnya dan hal-hal yang bisa mengurangi pahala atau membatalkan suatu ibadah. Bukan hanya itu, orang alim yang sedang tidur saja lebih dikuatirkan setan daripada orang biasa yang sedang beribadah. Ini menunjukkan bahwa betapa sulitnya orang yang benar-benar alim tergoda setan; dan sebaliknya, betapa mudahnya orang tak berilmu tergoda setan.
Karena itu, kita perlu selalu belajar, apalagi Rasul telah mengingatkan kita untuk belajar dari ayunan sampai ke liang lahat (seumur hidup). Yang juga penting adalah memastikan anak-anak atau generasi kita senantias belajar, agar kelak menjadi ulama masa depan yang akan memberikan pencerahan untuk umat yang lebih luas.
( sumber : Jarjani Usman serambinews.com )

Juli 21, 2009 at 12:34 pm 1 komentar

Mengajarkan bahasa Inggris pada Balita

i love engMungkin kebanyakan orangtua mengira bahwa mengajarkan bahasa Inggris kepada balita  itu mustahil dan sangat sulit dilakukan. Sebab, menurut mereka, bagi orang dewasa saja sudah sulit apalagi jika diajarkan kepada balita. Karena alasan ini, banyak orangtua tidak memiliki keinginan untuk mengajarkan bahasa Inggris kepada anaknya sejak usia dini.

Padahal, sebenarnya tidaklah demikian. Balita tetap bisa diajarkan berbahasa Inggris. Hanya saja, metode yang digunakan berbeda dengan metode untuk orang dewasa. Perlu ada pengemasan bentuk dalam menyampaikan materi dan ritme yang berbeda.

Metode ini di antaranya dengan memberikan kemasan visual berupa gambar dan kartu. Sebab, visual memiliki pengaruh besar bagi daya tangkap seorang anak, terutama bayi di bawah umur lima tahun. Melalui visual ini, otak anak akan merekam informasi bahasa yang didapatkannya melalui pengajaran yang dibuat. Selain itu, materi yang diajarkan juga bersifat tunggal, yakni berupa kosakata bukan kalimat panjang.

Misalnya, kita akan mengajarkan kosakata dan memperkenalkan buah-buahan, seperti mangga, tomat, pepaya, dan pisang. Setiap buah-buahan yang ingin diperkenalkan dibuat visualnya melalui gambar yang menarik bagi anak. Lalu di bawahnya diberi kosakata bahasa Indonesia dari nama buah-buahan tersebut. Dan, di bawahnya diberi kosakata bahasa Inggrisnya.

Metode ini memiliki kemudahan bagi kedua belah pihak. Anak  akan lebih mudah mencerna, sedangkan pengajar atau orangtua didik lebih mudah dalam menyampaikannya. Dengan begitu, proses pengajaran pun akan berjalan lebih cepat. Paling tidak, sangat bermanfaat dalam proses pendidikan bahasa Inggris pada tahap selanjutnya.

Metode yang digunakan misalnya dengan karyu peraga.Melalui kartu peraga ini, anak Anda akan lebih mudah mencerna materi yang diajarkan. Dan, pada pertambahan penguasaannya, kartu ini dilengkapi sistem tutup buka kosakata bahasa Inggris. Cara ini akan mampu memantau sejauh mana daya ingat dan kecepatan anak Anda menguasai kosakata bahasa Inggris melalui gambar di atasnya.

( Tulisan ini disarikan dari sumber : Viva news )

Juli 14, 2009 at 9:35 am 1 komentar

Untukmu Benteng Pendhem Club 02 Juli 2009

Membuat wallpaper memang gampang-gampang susah, atau memang susah beneran. Tapi, demi meramaikan lomba di kotangawi.com, walaupun susah tetap berusaha membuatnya. untuk kesempatan ini saya tampilkan wallpaper saya adalah sebagai berikut :

BPC2 copy

Dalam penggarapan wallpaper ini saya hanya menggunakan satu software setengah gratis, yaitu  Adobe Photoshop 7 versi  bajakan dan gambar backgrounnya juga dari Free clipart ( gratis juga ).

Saya sengaja memilih warna dasar merah, yang menggambarkan keberanian dan sikap semangat, walaupun sang mentari baru terbit, walau usia “komunitas blogger kota Ngawi ” masih baru satu tahun, ibarat matahari yang baru terbit.

Warna tulisan  BPC Kuning, menggambarkan cahaya, yang berarti harapan. Dengan harapan yang cerah, kelak diharapkan segala tujuan dari komunitas ini akan terlaksana, yaitu membangun Kota Ngawi.

Frame warna biru, warna langit dan laut, Laut nan dalam dan langit nan tinggi. Itulah kerangka harapan dari semua anggota, mempunyai ilmu yang dalam dan derajat yang tinggi , sebagaimana yang dijanjikan oleh Allah SWT.

Selamat dan sukses  atas ulang tahun ke-1 Komunitas Blogger Kota Ngawi .

Juli 8, 2009 at 11:22 am 4 komentar

Menikah dengan Mas Kawin Bibit Jati

Unik dan heboh. Kedua kata itu tepat untuk melambangkan perayaan pernikahan pasangan Amsad Rangkuti dan Siti di Kampung Cimayang, Cibatok, Pamijahan, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, baru-baru ini. Calon mempelai laki-laki memberi mas kawin berupa bibit pohon jati sebanyak lima ratus buah.

Usai melakukan ijab kabul di hadapan Menteri Kehutanan MS Kaban, kedua mempelai langsung diarak ke lokasi penanaman. Keduanya diminta untuk menanam bibit pohon jati sebagai tanda sah pernikahannya. Menteri Kehutanan berharap kepada generasi penerus agar tetap menjaga pelestarian alam karena keberadaan hutan makin memprihatinkan akibat pemanasan global. ( liputan 6. )

Ide yang bagus… siapa mau menyusul…?

Juli 7, 2009 at 11:24 am Tinggalkan komentar

Tulisan Lebih Lama


Author

Pesan Luqmanil Hakim : "Wahai anakku, janganlah engkau belajar apa yang belum kau ketahui, sebelum engkau mengamalkan apa yang telah engkau ketahui "

Kategori

Lomba Menulis Blog BPC 2009

Harian

Februari 2012
S S R K J S M
« Okt    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
272829  

SocialVibe



Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.